Kala seorang makhluk yang tak menyukai bising
Katanya ia menyukai hening yang senyap tanpa suara
Damai, tenang, dan diam
Namun, siapa sangka saat sekitar menghakimi
Menuduh ia yang teramat diam tanpa kata
Ternyata ia sedang riuh bertengkar dengan dirinya
Dunia boleh melihat ia terpaku kaku
Tanpa suara walau sepatah
Namun, di dalam ia tengah berisik
Asyik mendebat antara rasa dan pikirnya
Berseteru dengan akal dan nuraninya sendiri
Teramat galau antara jiwa dan raganya
Bersenda gurau sesekali saat ia lelah
Mengapa begitu? Tanyaku
Aku hanya lelah tidak didengar, jawabnya
Pun begitu hidup ini
Memilih diam, saat kita lelah tak lagi didengar
Memilih bungkam, saat tak lagi dihiraukan
Memilih bisu, saat tak lagi dipedulikan
Memilih tanpa kata, saat tak lagi diacuhkan
Memilih tak bersuara, saat tak lagi diindahkan
Mungkin teramat benarlah pujangga berkata
“Setelah kamu sadar, betapa jarangnya kamu dipahami, kamu
akan lebih sering diam”
Pun juga katanya…
Jangan menjadi nada dering untuk mereka yang menyukai mode
senyap.
Benar sekali, aku hanya bisa membatin
Lagi-lagi tanpa suara, tanpa sepatah kata
Sebab bagiku, diam adalah segalanya
Diam hanyalah seni sederhana bagiku untuk mencintai diriku lebih. (jwriting)
.jpg)
0 Comments