jeweliteracy.blogspot.com – Saya adalah seorang ibu yang memiliki seorang anak yang telah duduk di bangku sekolah dasar. Tulisan ini mewakili keresahan saya sebagai orangtua yang tidak setuju jika anak-anak/siswa sekolah harus dijadikan bahan atau objek konten para pendidik yang kebetulan juga merangkap sebagai konten kreator.
Dalam era digital sekarang, kita menyaksikan banyak para guru yang memanfaatkan perkembangan teknologi demi menunjang profesi mereka sebagai pendidik. Tentu hal ini adalah sebuah langkah yang harus kita dukung, karena hidup di zaman serba digital kita dituntut untuk bisa beradaptasi dan bisa mengimbangi setiap perkembangan yang amat pesat tersebut. Sayangnya, tak jarang kita juga harus menyaksikan beberapa guru yang ternyata juga merupakan konten kreator di media sosial, sebut saja seperti Facebook, Instagram, TikTok, atau platform sejenis lainnya yang justru menjadikan siswa sebagai objek dalam konten mereka. Praktik ini tidak hanya mengabaikan privasi dan hak-hak anak, tetapi juga dapat berdampak negatif bagi perkembangan anak.
Bahkan, saya mengenal beberapa orang yang berprofesi sebagai guru, di mana seluruh aktivitas mereka di sekolah tak pernah luput dari dokumentasi, lalu dipublikasikan di media sosial setiap hari. Ya, setiap hari! Bahkan dalam satu hari, mereka bisa mengunggah beberapa postingan sekaligus. Yang lebih menarik (atau mungkin lebih tepatnya ironis), mereka mengaku bahwa itu adalah bagian dari “tanggung jawab” mereka sebagai “karyawan” di salah satu platform media sosial, karena memang motivasi utamanya adalah mengejar cuan dari setiap konten yang diposting. Tak heran, mereka begitu mati-matian mengejar views, likes, engagement, dan sangat berharap setiap konten bisa viral. Karena bagi mereka, jika konten viral, maka dolar pun sudah menanti di depan mata.
Tidak masalah jika seorang guru juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai konten kreator. Yang menjadi masalah adalah ketika siswa dijadikan komoditas dalam setiap konten yang dibuat. Setiap hari mengambil dokumentasi yang menampilkan wajah siswa, menyorot mereka dengan flash tanpa henti, menjadikan mereka objek konten, lalu mengunggahnya ke media sosial, mempertontonkan kepada semua mata yang ada di media sosial, semua itu patut dipertanyakan, baik dari sisi etika maupun privasi.
Tidak Seharusnya Siswa Dijadikan Sebagai Objek Konten
Menjadikan siswa sebagai objek konten tanpa izin dan pertimbangan yang matang dapat menjadi pelanggaran terhadap privasi mereka. Meskipun akan ada beberapa siswa yang sukarela atau tidak keberatan, bukan berarti praktik ini dapat dibenarkan lalu dimanfaatkan seenaknya. Anak-anak, terutama yang masih berstatus pelajar, belum sepenuhnya memahami risiko jejak digital. Mereka bisa kehilangan kontrol atas citra diri mereka di dunia maya dan dampaknya bisa jangka panjang.
Status mereka sebagai siswa bukan berarti mereka bebas dimanfaatkan sebagai bahan konten oleh guru, apalagi jika konten tersebut dibuat demi kepentingan pribadi guru yang bersangkutan, bukan untuk kepentingan pendidikan. Ini jelas melampaui batas profesionalisme seorang pendidik.
Tentu berbeda halnya jika siswa dilibatkan dalam dokumentasi kelas atau sekolah, seperti kegiatan akademik, lomba, atau upacara, yang memang bertujuan untuk keperluan sekolah, tentu itu masih bisa dimaklumi. Namun, ketika konten dibuat semata-mata untuk mengejar likes, views, popularitas, serta keuntungan pribadi, maka itulah yang menjadi masalah dan layak dipertanyakan.
Anak-anak berhak untuk memiliki ruang aman, termasuk dalam dunia digital yang pastinya tidak akan bisa terbendung. Sebagai orang dewasa, baik orangtua maupun para guru harus lebih peka dan bertanggungjawab untuk melindungi privasi anak.
Tidak Semua Orangtua Rela Jika Anaknya Dijadikan Sebagai Objek Konten
Bagi orangtua yang memiliki anak usia sekolah dasar, menjaga privasi anak adalah prinsip yang penting. Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak mengekspos hal-hal bersifat personal tentang anak, seperti wajah atau kehidupan pribadinya, demi menjaga keamanan dan kenyamanan anak.
Namun, munculnya fenomena di mana anak-anak sekolah kerap dijadikan objek konten oleh para guru yang juga berperan sebagai kreator media sosial, tanpa izin atau tanpa mempertimbangkan etika, tentu bisa merusak kepercayaan orangtua terhadap pihak sekolah. Orangtua bisa merasa bahwa ruang aman anaknya tidak lagi terjaga.
Sebagai seorang ibu, saya pribadi sangat memahami jika ada orangtua yang tidak nyaman atau bahkan keberatan ketika anaknya muncul di media sosial milik guru atau sekolah, apalagi jika tanpa izin. Setiap orangtua punya batas dan prinsip masing-masing dalam hal menjaga privasi anak. Tidak semua merasa bangga atau senang jika anaknya “viral”, bahkan dalam konteks yang positif sekalipun.
Ketika orangtua menyekolahkan anaknya ke sebuah sekolah, maka mereka sedang menitipkan anak-anaknya untuk diajar dan dididik oleh para guru, dan tidak termasuk untuk “dieksploitasi” dengan menjadikan anak-anak sebagai objek dalam setiap konten media sosial.
Siswa Bukan Komoditas, Stop Jadikan Mereka Objek Konten!
Di era digital seperti sekarang, batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik semakin kabur. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan privasi dan hak anak terutama saat mereka berada dalam lingkungan sekolah. Guru, sekolah, dan seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan seharusnya menjadi pelindung, bukan justru memperlihatkan anak-anak ke ruang publik tanpa pertimbangan matang. Baik siswa maupun orangtua punya hak untuk berkata “tidak” jika merasa tidak nyaman.
Sudah saatnya kita lebih bijak, berhenti menjadikan anak-anak sebagai objek konten demi keuntungan pribadi, dan mulai menempatkan kepentingan serta kenyamanan mereka sebagai prioritas utama. Tanggung jawab kita sebagai orang dewasa adalah memastikan mereka tidak dimanfaatkan atas nama tren atau popularitas, melainkan dibimbing dengan empati, etika, dan rasa hormat. (jwriting)
.png)
0 Comments