jeweliteracy.blogspot.com – Dulu, saya lahir dan besar di sebuah pedesaan kecil di Sumatera Utara, tempat di mana kehidupan berjalan pelan dan sederhana. Lalu, merantau ke Kota Medan hingga Jakarta yang penuh hiruk-pikuk dan hingar-bingar. Sampai akhirnya, saya berlabuh di sebuah kota kecil bernama Tanjungpinang, tempat yang mengajarkanku arti slow living.
Dari semua kota dan daerah yang ada di Indonesia, kota Tanjungpinang mungkin tidak pernah masuk dalam list kota yang ingin saya kunjungi, apalagi sampai tinggal dan menetap di sini. Benar-benar tidak pernah terpikirkan atau terencanakan. Tapi, justru Tuhan membawa saya ke sini. Penghujung tahun 2020, di masa pandemic Covid 19, keluarga kecilku pindah ke kota ini karena pekerjaan. Saya yang sempat vakum dari dunia pekerjaan lalu menjadi ibu rumah tangga, namun akhirnya kembali bekerja, menggeluti predikat baru as a working mom.
Saya masih mengingat dengan jelas, ada perasaan ingin mundur saat pertama kali menginjakkan kota ini. Dalam hati saya membatin, “kok sepi…?” Walau masih satu provinsi dengan kota Batam yang pernah menjadi tempatku menetap selama kurang lebih 3 (tiga) tahun sejak saya menikah, nyatanya kota Tanjungpinang ini sangat berbeda dengan kota Batam yang terkenal dengan industrinya itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, Tanjungpinang ini justru adalah ibukota provinsi, namun ia tidak semegah dan semenarik kota Batam.
Tak terasa, nyaris 5 (lima) tahun lamanya tinggal di kota ini. Lalu, apa saja yang saya temui di kota kecil ini?
- Budaya Melayu yang Sangat Kental
Kota Tanjungpinang dikenal juga dengan istilah “Kota Gurindam Dua Belas”. Mendengar kata “gurindam dua belas” ini mengingatkan saya ke zaman sekolah dulu. Sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia di bangku SMP, Gurindam Dua Belas ini pernah dibahas oleh guruku saat itu. Raja Ali Haji, seorang tokoh sastra Melayu, tinggal di Pulau Penyengat dan menciptakan karya terkenal “Gurindam Dua Belas”. Pulau Penyengat ini adalah pusat sejarah dan kebudayaan Melayu dan merupakan destinasi wisata budaya dan religi yang kental. Namun, pulau yang satu ini belum juga sempat saya kunjungi sampai dengan hari ini. Semoga suatu saat nanti, saya bisa punya kesempatan untuk berkelana sebentar ke pulau kecil ini. Logat Bahasa yang sarat dengan budaya Melayu juga akan kita temui di kota ini. Walau dulu saya pernah tinggal di kota Medan yang terkenal dengan budaya Melayunya, namun bagi saya Bahasa Melayu Medan (Deli) sedikit berbeda dengan Melayu di Tanjungpinang. Pertama kali mendengar Bahasa Melayu di Tanjungpinang, itu seperti sedang mendengarkan percakapan dalam tontonan Upin & Ipin. Hehehe… Selain Bahasa, budaya Melayu di Tanjungpinang juga tampak melalui busana berpakaian yaitu pakaian kurung Melayu yang menjadi pakaian adat tradisional. Alhasil, seluruh pekerja kantoran atau pegawai pemerintahan dan anak sekolah juga akan mengenakan pakaian kurung Melayu ini setidaknya satu hari dalam seminggu. Mau tidak mau, saya juga harus membeli dan mempunyai koleksi pakaian kurung Melayu.
- Toleransi yang Tinggi
Penduduk Tanjungpinang didominasi oleh etnik Melayu yang beragama Islam. Selain Islam, terdapat pula penganut agama Kristen (termasuk Protestan dan Katolik), Buddha, Konghucu, dan Hindu. Meskipun kota ini didominasi oleh etnik Melayu yang beragama Islam, namun saya bisa melihat bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dan harmonis meskipun berbeda agama. Saya contohnya, di kantor saya yang jumlah pegawainya 40-an saya adalah satu-satunya yang beragama Kristen, sedangkan yang lainnya adalah Islam. Jika ada acara foto bersama, maka saya satu-satunya wanita tidak berkerudung yang muncul dalam foto. Meskipun demikian, rekan-rekan kerja saya sangat baik dan merangkul meskipun kami berbeda agama. Begitu juga di lingkungan perumahan, tetangga kiri-kanan, depan-belakang, semuanya kebanyakan beragama Islam, tapi kami bisa hidup rukun dan damai.
Jika pada bulan Juni 2025 lalu, kita disuguhkan dengan berita tentang pembubaran paksa sekelompok anak dan remaja Kristen yang tengah melakukan kegiatan keagamaan (retret) di daerah Cidahu, Sukabumi, maka beda halnya dengan di sini. Sekitar 2 (dua) bulan lalu, saya bersama keluarga pergi piknik sebentar ke tempat wisata pantai yang tidak jauh dari kota Tanjungpinang. Tidak lama setelah kami sampai di sana, tiba-tiba ada rombongan ibu-ibu dengan dresscode pink berjumlah sekitar dua puluh orang. Saya sempat melihat mereka membawa sebuah spanduk kecil bertuliskan nama kelompok mereka, semacam arisan ibu-ibu dari gereja tertentu. Mereka menyewa fasilitas sound system yang tersedia di pantai tersebut beserta operatornya seorang laki-laki dan perempuan berjilbab. Lagu-lagu viral di aplikasi T*ktok mulai diputar dan sekelompok ibu-ibu tersebut mulai bermain berbagai macam game. Namun, tak lama kemudian lagunya mulai berganti, jika tadi adalah lagu-lagu pop buat joget-joget, sekarang diganti dengan lagu rohani Kristen dengan versi remix. Lagu rohani Kristen itu pun berkumandang di sepanjang area resort tersebut, namun tidak ada yang complain, tidak ada yang merusuh atau merasa terganggu. Jujur, saat itu saya terharu melihat bahwa seperti itulah seharusnya kita hidup berdampingan dengan segala sekat-sekat perbedaan yang ada.
- Ritme Kehidupan yang Slow dan Tenang
Jika dulu selama tinggal di Jakarta, saya merasakan kehidupan yang serba cepat, ekspres, dengan segala hiruk pikuknya, maka beda ceritanya dengan kehidupan di Tanjungpinang. Di sini , saya melihat bagaimana kehidupan itu berjalan dengan tenang dan santai. Awalnya, saya merasa syok dan kaget, dong. Suka gregetan dengan segala sesuatu yang terkesan lambat dan terlalu santai. Namun, pada akhirnya saya belajar beradaptasi bahwa semua itu harus disyukuri. Hampir 5 (lima) tahun menjadi warga Tanjungpinang, membuatku belajar banyak hal, ibarat ambil waktu sejenak, tarik nafas lalu belajar untuk menikmati hari-hari yang jauh dari hingar bingar kota metropolitan. Kota ini mengajarkanku untuk seolah rehat sejenak dari kehidupan yang terlalu sibuk, belajar untuk berdamai dengan kehidupan yang slow alias slow-living. Tapi, ada satu hal di kota ini yang cukup menarik perhatian bagiku yaitu ada banyak warung kopi di berbagai sudut kota ini. Ya, Tanjungpinang memiliki banyak warung kopi. Bukan sekadar nongkrong atau ngopi, bagi sebagian orang, warung kopi adalah kantor kedua, tempat dimana mereka bisa berdiskusi, deal kerja sama, tender, hingga perencanaan bisnis.
- Alamnya yang Memesona
Terletak di sebuah pulau indah bernama Pulau Bintan, maka tak heran jika kota Tanjungpinang juga dikelilingi oleh pesona alam yang indah. Salah satunya, Tepi Laut yang berlokasi dekat dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Tempat ini sering menjadi destinasi untuk sejenak melepas penat, melihat deburan ombak sambil menikmati sunset di sore hari. Di Kawasan ini juga kita akan dimanjakan dengan berbagai ikon kota Tanjungpinang seperti Tugu Sirih yang berwarna keemasan. Terdapat juga Gedung Gonggong, sebuah gedung ikon atau landmark di Kota Tanjungpinang. Selain Kawasan Tepi Laut, kita juga melipir sedikit ke daerah Pulau Dompak yang dikenal sebagai pusat pemerintahan provinsi Kepulauan Riau. Untuk sampai di tempat ini kita akan melewati sebuah jembatan yang membentang sepanjang 1,5 Kilometer. Ya, jembatan Dompak Tanjungpinang ini termasuk yang terpanjang kedua setelah Jembatan Nasional Suramadu. Kawasan Pulau Senggarang yang menjadi pusat pemerintahan Kota Tanjungpinang juga bisa menjadi destinasi wisata. Di sana kita bisa melihat pemandangan laut yang mengelilingi kota Tanjungpinang ini, selain itu di sana juga terdapat Vihara yang sering dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai lintas agama, loh. Selain itu, tinggal di Tanjungpinang juga akan memanjakan kita dengan berbagai banyak pesona pantai yang begitu indah. Walau sebagian besar sudah bukan masuk wilayah administratif kota Tanjungpinang, melainkan masuk wilayah Kabupaten Bintan, namun wisata ke pantai juga merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat Tanjungpinang. Kawasan Lagoi Beach hingga kawasan pantai di daerah Trikora, Kawal, Bintan adalah kepingan surga yang memesona dengan deburan ombak serta alamnya yang hijau.
- Kuliner Hasil Laut yang Melimpah
Jika ditanya apa kuliner favorit khas Tanjungpinang? Maka, jawabannya adalah seafood. Sayangnya, saya bukan penikmat seafood. Beberapa kali acara makan-makan bersama rekan kantor yang kebetulan diadakan di restoran seafood, alhasil saya cuma menyantap telur dadar dan ayam crispy saja. Mengingat kota Tanjungpinang yang dikelilingi oleh lautan, maka tak heran jika seafood ini menjadi kuliner favoritnya. Di berbagai sudut di kota ini, kita akan menemukan banyak warung-warung bahkan restoran yang menyajikan aneka olahan hasil laut dengan cita rasa yang menggugah selera, terutama bagi mereka penikmat seafood.
Jujur, untuk hal kuliner saya masih kurang sreg dengan kota ini. Saya sesekali masih merindukan masakan yang memanjakan lidahku seperti mie gomak, mie sop medan, ikan bakar dengan sambal tuktuk dengan cita rasa andaliman yang membuat lidah kebas. Hehehe..
Awalnya syok, akhirnya aku belajar berdamai dengan kota ini
Masih terekam dengan jelas di memoriku, bagaimana di awal-awal dulu saya suka mengeluh dengan kota ini. Walaupun belasan tahun dulu saya habiskan di sebuah pedesaan kecil yang juga sarat dengan serba kesederhanaan, namun saya masih suka denial jika ketika dewasa saya harus tinggal di kota seperti Tanjungpinang ini. Dulu saya berpikir untuk tinggal di kota besar yang megah dan serba canggih, kota megapolitan, itulah impian saya dulu.
Saya butuh waktu untuk berproses, belajar untuk berdamai dengan keadaan, belajar menerima dan ikhlas, bahwa jalan yang sedang saya tempuh memang bukanlah jalan yang saya inginkan, tapi lagi-lagi, Tuhanlah yang telah menuntun langkah saya ke sini, ke kota ini bersama keluarga kecilku. Hingga akhirnya saya bisa tersenyum, menghela nafas sambil mengucap “terima kasih, Tuhan.”
Terlepas dari semuanya itu, saya sangat bahagia dan bersyukur bisa mengenal kota ini. Bisa tinggal dan menetap di kota ini sejak penghujung tahun 2020 sampai dengan saat ini menjadi pengalaman yang banyak memberikan pelajaran hidup. Barangkali tahun depan atau empat tahun lagi, Tuhan akan membawaku lagi ke kota yang lain? Siapa yang bisa tahu? God only, knows. Salam dari kota GURINDAM, Gigi, Unggul, Rapi, Indah, Nyaman, Damai, Aman, dan Manusiawi. (jwriting)
.png)
0 Comments