Di Balik Momen Mengambil Rapor Anak

jeweliteracy.blogspot.com - Beberapa hari lalu, saya ke sekolah untuk mengambil rapor anak pertama saya yang baru duduk di kelas 1 SD. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian buat saya.

  1. Begitu pedulinya pemerintah untuk meningkatkan peran sosok ayah terhadap perkembangan anak Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara “fatherless” di dunia, sehingga pemerintah melalui Kemendukbangga menginisiasi GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia) yang kita saksikan lewat program gerakan mengantar anak di hari pertama sekolah dan gerakan mengambil rapor anak.
  2. Sistem rangking sudah tidak lagi digunakan di sekolah. Buku rapor anak sekolah sekarang lebih kaya dengan deskripsi tentang proses perkembangan anak selama pembelajaran di sekolah, baik lewat nilai akademis, maupun perkembangan sosial-emosi anak yang akan kita dengarkan lewat penjelasan oleh guru wali kelas. Sangat berbeda dengan zaman dulu, dimana rapor selalu identik dengan skor/nilai, juara atau rangking.
  3. Walau tak lagi menuliskan peringkat anak pada buku rapor, namun wali kelas menyampaikan secara pribadi tentang peringkat anak di kelas. Sebagai orangtua yang membersamai proses akademis dan proses pembelajaran anak selama ini, saya cukup bisa memprediksi peringkat tersebut. Wali kelas lebih menekankan tentang bagaimana mempertahankan prestasi atau bahkan meningkatkan prestasi, jadi bukan sekedar mendapatkan peringkat yang bagus saja.
  4. Dibandingkan untuk tahu rangking anak, saya justru lebih penasaran dengan hal-hal ini (bahkan sudah menyiapkan pertanyaan ini sebelum bertemu guru untuk mengambil rapor), yaitu:
    - Bagaimana keseharian anak saya di sekolah, ceria atau pendiam?
    - Bagaimana dia berinteraksi dengan guru dan temannya?
    - Apakah dia berani berpendapat?
    - Apakah dia berani ke toilet sendiri? 
    Sesederhana itu pertanyaan yang ingin sekali saya dapatkan jawabannya dari wali kelas. Setidaknya jawaban yang saya peroleh bisa membantu menjawab kekhawatiran saya tentang apakah anak saya bisa “mandiri” di sekolah.
     
    Sepanjang pembicaraan berdua dengan ibu wali kelas, ada dua pertanyaan  dari ibu wali kelas yang cukup menggelitik bagi saya yaitu:
  • Saya penasaran bu, kok bisa anak ibu tahan untuk tidak jajan di sekolah? Saya lihat anak ibu selalu membawa bekal dari rumah, padahal teman-temannya kebanyakan beli jajanan di kantin sekolah.
  • Anak ibu tidak main hp di rumah? (dengan ekspresi wajah tidak percaya). Boleh sharing gak bu, gimana tips supaya anak tidak main hp?    

Akhirnya, saya pun sedikit bercerita tentang awal mula keputusan saya untuk tidak memberikan handphone atau gadget kepada anak. Begitu pula dengan pilihan saya untuk setia membekali anak dengan makanan dari rumah, alih-alih memberinya uang jajan. Saya selalu percaya bahwa setiap orang tua memiliki cara masing-masing dalam memperlakukan dan mendidik anaknya. Bagi saya, dua pilihan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk membentuk anak menjadi pribadi yang disiplin dan tidak tumbuh dengan sikap “semau gue”.

Sepulang dari sekolah, terselip perasaan lega dan bangga di hati saya. Hasil yang tertera di lembaran buku rapor hari ini adalah buah dari kerja sama antara saya sebagai orang tua, guru di sekolah, dan anak saya sebagai siswa. Saya sebagai orang tua yang senantiasa membersamai serta mendampingi proses belajar anak di rumah, guru sebagai sosok pendidik di sekolah, dan anak saya sebagai individu pembelajar yang berjuang melawan berbagai rasa demi menjaga semangat belajarnya. (jwriting)

Post a Comment

0 Comments