Setelah mempunyai anak, sudah tidak berpikiran sih
sebenarnya untuk kerja di luar rumah. Toh di zaman sekarang ada banyak peluang
yang bisa dikerjakan dengan fleksibel tanpa harus meninggalkan anak setiap
hari. Tapi, kenyataan tak selalu sama dengan ekspektasi yang diidamkan.
Sejak menikah dan memutuskan untuk tidak lagi berkarir di perusahaan, saya sudah bertekad untuk tetap berpenghasilan. Yaiyalah, masa iya kuliah tinggi-tinggi tapi cuma jadi ibu rumah tangga (kata orang-orang julid).
Bahkan sering dipandang sebelah mata, tidak tahu apa kalau
zaman sekarang banyak ibu rumahtangga yang juga banting setir untuk menopang
finansial keluarga. Padahal sehari-hari sudah disibukkan dengan urusan rumah,
dapur, dan semua tetek bengeknya.
Hebat bukan?
Itulah mengapa aku sendiri sebagai seorang perempuan tidak pernah memandang sebelah mata perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumahtangga. Mereka itu sama hebatnya dengan wanita-wanita karier di luar sana.
Tidak terasa sudah sekian lama bekerja di luar rumah (dulu kerja juga tapi di dalam rumah 😆) Bersyukur bisa melewati masa-masa penuh drama meninggalkan anak setiap pagi dan kembali bertemu sore hari. Setiap sore, sepulang kerja masih menyempatkan diri mengerjakan bisnis online yang kumulai sejak 4 (empat) tahun silam sampai akhirnya merasa kewalahan.
Sebuah dilema antara tetap menjalankan bisnis online
sepulang dari kantor atau meluangkan waktu bersama anak. Akhirnya, pilihan
jatuh sama anak ❤️
Masa iya, kerja setiap hari meninggalkan anak, pulang kantor
masih mengurus semua kerjaan rumah, dan waktu sama anak jadi sangat terbatas
karena kepikiran untuk mengerjakan bisnis lagi. No no no! My son is my
priority.
Konon katanya menjadi seorang ibu itu juga perlu menjaga kewarasan diri setiap hari. Ngakak sih dengernya, tapi kalo dipikir-pikir ternyata ada benarnya.
Kalau lagi capek ga sempat masak, gpp pesan makanan kesukaan
via gofud, cuci mata ke mall, bolehlah lazy time sesekali di rumah (tapi jangan
kebablasan ntar jadi tabiat). Kurang lebih gitulah salah satu ehh salah tiga
contoh menjaga kewarasan diri. Sebab seorang ibu juga adalah manusia yang bisa
marah dan bahkan suka marah-marah apalagi kalo udah capek ngurusin kerjaan
rumah yang sering kaya ga ada beres-beresnya 😅.
Jadi kangen masa-masa dulu...
Kadang suka mewek mengingat masa-masa dulu, jalan pagi dan
berjemur matahari pagi sama-sama, trus belanja ke warung beli ikan sayur sama
donat tiap pagi. Main dan belajar bareng, jalan-jalan sore sehabis mandi di
komplek perumahan sambil melihat matahari terbenam, melihat laut, tegur sapa
dengan tetangga, dan lihat ayam dan kucing berkeliaran. Bisa sesuka hati, kapan
saja kalau pengen keluar buat jalan atau main ke mall walaupun ga ada duit 🤧
Duuhh ga terasa waktu cepat sekali berlalu. Sekarang waktu sama anak ga lagi sama kaya dulu, tapi sukacita dan rasa bahagia setiap kali menghabiskan waktu bersama anak selalu menjadi momen mahal yang tak ternilai harganya.
Mungkin di luar sana banyak orangtua yang terpaksa harus
jauh dari anak-anaknya demi mencari nafkah. Ada yang terpisahkan kota, pulau,
negara, bahkan benua. Lah ini cuma terpisahkan 8 jam sehari kok Senin-Jumat
jadi harus tetap bersyukur. Bersyukur masih dikasih pekerjaan. Bersyukur bisa
melihat anak sehat dan makin pinter setiap hari. Bersyukur untuk banyak hal
baik yang Tuhan masih izinkan untuk kita nikmati.
Pergumulan, kesulitan, dan kesusahan yang Tuhan pun izinkan terjadi, anggap sebagai bonus untuk mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi pribadi tangguh dan kuat.
Semangat untuk semua ibu-ibu luar biasa! (jwriting)
.png)
0 Comments