Rasa takut akan hari esok yang tak lagi sama
Pun tak siap membayangkan keadaan yang tak sesuai harap
Kadang, menutup mata berharap hari berjalan sesuai inginnya
hati
Ingin lompati waktu dan berharap abai atas waktu yang tak
disukai
Di saat selaksa takut kerap menghantui
Ingin menangis menghujat semesta
Namun, seberkas suluh masih jumawa menerangi hati yang patah
Maka, berbahagialah sukma yang lara
Bangkitnya jiwa yang pernah terpuruk dalam
Dersik berhembus menghidupkan semangat yang pernah mati
Seolah semesta raya tak relakan jiwa yang berduka
Tak pula ia inginkan hanyut dalam kepahitan
Langit seperti tak mau kalah membersit iman
Sebab selalu ada sedikit percik bara di sisa perapian
Juga masih tersisa puing asa di balik isak tangis
Maka, berbahagialah sukma yang lara
Jutaan baris ayat terhatur
Melayang sendu dalam tiap hembusan
Oleh setiap manusia yang menaruh cinta
Hingga kau bergeming akan seulas senyum dalam sujudmu
Sebab ada mulut yang bukan memberimu petaka atau cemooh
Bukan pula air beriak yang riuh ramai oleh caci maki
Ada hati yang merendah menaikkan ucap syukur
Lalu meminta dalam kebersahajaannya sebagai makhluk
Berserah kepada-Nya Sang Mukhalis pemilik semesta jagad
Bak seni sederhana berpengharapan dalam keberputusasaan
Membuat mungkin segala yang tak mungkin
Maka, berbahagialah jiwa yang lara. (jwriting)
0 Comments