jeweliteracy.blogspot.com – Dulu, saya sering membaca kisah ibu-ibu yang rela mengambil jeda demi anaknya. Bahkan tak jarang, rela mengalah, mengubur mimpinya demi menghidupkan mimpi anak-anaknya. Saya membacanya sambil diam-diam bertanya, apakah suatu hari aku juga akan sampai di titik itu?
Ternyata, hari itu benar-benar datang.
Perkenalkan, saya adalah seorang ibu dengan 3 (tiga) orang anak. Saya juga seorang ibu bekerja. Dua peran yang sama-sama saya syukuri, tapi jujur saja, tidak selalu mudah untuk dijalani bersamaan.
Ibu Bekerja dan Rasa Bersalah yang Diam-Diam Menumpuk
Setiap pagi rutinitasnya hampir sama. Bangun lebih awal, membereskan rumah, menyiapkan keperluan anak-anak, lalu berangkat kerja dengan perasaan yang campur aduk. Ada kalanya anak saya memegang tangan saya lebih lama dari biasanya, seolah tidak ingin melepas. Dan saya tetap harus melepaskan genggaman itu sembari mendengarkan kata-kata manis yang sering terlontar dari bibir kecilnya, "mama cepat pulang ya, mama hati-hati di jalan ya.."
Sepulang kerja, tenaga sudah tinggal sisa. Setiba di rumah, saya tidak langsung bisa duduk dan bermain bersama anak-anak. Saya harus berganti peran, dari pegawai kantor menjadi ibu rumah tangga yang mengurus segalanya, dari teras hingga dapur. Padahal, saya ingin menemani mereka bermain, mendampingi mereka belajar, dan mendengarkan cerita mereka tentang hari itu. Tapi sering kali yang tersisa untuk mereka hanyalah ibu yang lelah, yang kadang menjawab sekenanya, kadang malah kehilangan kesabaran. Sungguh aku merasa bak ibu dengan kesabaran setipis tissue dibagi dua.
Tak jarang, saya mulai bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya, untuk siapa saya berlari sekencang ini? Kalau anak-anak tumbuh tanpa saya benar-benar hadir, apa artinya semua kesibukan ini?
Waktu Tidak Bisa Menunggu
Aku sadar, momen bersama anak akan berlalu begitu cepat. Hari ini mereka masih minta dipeluk sebelum tidur, masih berebut duduk di pangkuan, masih ingin bercerita tentang hal-hal kecil. Tapi nanti, tanpa terasa, mereka sudah besar. Mereka akan sibuk dengan dunianya sendiri, dan pelukan itu mungkin tidak lagi diminta sesering sekarang.
Aku ingin menciptakan banyak momen indah bersama mereka. Aku ingin mengoleksi kenangan manis di masa kecil mereka, kenangan yang kelak bisa mereka ingat dengan senyum. Tapi di saat yang sama, aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri. Aku masih punya mimpi yang ingin kukejar.
Lalu, apakah keduanya harus dipilih salah satu?
Refleksi Panjang Sebelum Mengambil Keputusan
Keputusan ini tidak saya ambil dalam semalam. Ada banyak malam saya terjaga, menimbang-nimbang, berdiskusi dengan suami, dan tentu saja berdoa. Saya tidak ingin keputusan ini sekadar pelarian dari rasa lelah. Saya ingin keputusan ini punya makna.
Sampai akhirnya….
Saya memilih mengambil jeda. Bukan berhenti, tapi jeda. Saya mengajukan tugas belajar untuk melanjutkan pendidikan. Dengan sejenak keluar dari rutinitas kantor, saya punya waktu yang lebih lentur untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak. Di saat yang sama, saya tetap bisa bertumbuh dan mengejar mimpi yang dulu sempat tertunda.
Apakah semua orang mengerti? Tentu tidak. Ada yang bertanya, “Sudah segini umurnya, masih mau kuliah lagi?” Ada juga yang heran, “Anak tiga, kok malah sekolah lagi?” Saya hanya tersenyum. Saya paham, tidak semua alasan perlu dijelaskan panjang lebar kepada semua orang. Saya hanya butuh dua hal untuk meyakinkan diri: restu dan dukungan suami, serta keteguhan dan komitmen dari dalam diri saya sendiri.
Kembali ke Bangku Kuliah, Kembali Jadi Pembelajar
Jujur, awalnya saya grogi. Duduk di kelas bersama teman-teman yang sebagian jauh lebih muda, kembali membaca jurnal, mengerjakan tugas, berdiskusi sampai larut. Ada saat-saat saya merasa otak saya sudah tidak secepat dulu. Ada malam-malam saya mengerjakan tugas sambil sesekali menoleh memastikan anak-anak sudah tidur nyenyak.
Tapi justru di situ saya menemukan sesuatu yang lama hilang: rasa ingin tahu. Saya merasa hidup lagi sebagai seorang pembelajar.
Dan yang paling saya syukuri, waktu saya kini lebih bisa saya atur. Saya bisa mengantar anak ke sekolah. Saya bisa duduk di samping mereka saat mengerjakan PR. Saya bisa mendengar cerita mereka di siang hari, saat cerita itu masih hangat. Small things, but they mean the world to me.
Aku Ingin Mereka Melihat, Bukan Hanya Mendengar
Ada satu alasan lagi yang membuat saya mantap mengambil langkah ini. Saya ingin menjadi teladan bagi anak-anak saya. Saya bisa saja berkali-kali menasihati mereka, “Nak, belajar yang rajin, ya.” Tapi anak-anak tidak belajar dari nasihat semata. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Dan ternyata, mereka benar-benar memperhatikan. Rasanya lucu sekaligus haru setiap kali anak saya yang masih kecil bertanya dengan polosnya, “Mama lagi kuliah di Zoom, ya?” Di hari lain, ia bertanya, “Mama mau kuliah ke kampus, ya?” Bahkan pernah juga, “Mama lagi ngerjain tugas, ya, biar nggak dimarahin dosen?” Saya tertawa mendengarnya. Tanpa saya sadari, kegiatan belajar mamanya sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Kini mereka sering melihat mamanya duduk di depan laptop, membaca berbagai artikel, lalu menulis. Mereka melihat mamanya mengerjakan tugas, kadang mengeluh, tapi tetap menyelesaikannya. Suatu sore, salah satu anak saya duduk di samping saya yang sedang membaca, lalu memeluk lengan saya dan berkata pelan, “Aku suka Mama di rumah, bukan di kantor...”
Saya terdiam. Kalimat sesederhana itu, tapi rasanya langsung menembus ke dalam hati. Ternyata selama ini, di balik lambaian tangan mereka setiap pagi, ada rindu yang tidak pernah mereka ucapkan. Saya memeluknya erat dan berbisik, “Mama juga suka di rumah sama kamu, Nak. Sekarang Mama lagi belajar lagi, biar nanti kamu juga semangat belajar, ya.”
Saya berharap momen itu tertanam dalam hati mereka. Bahwa belajar bukan beban, tapi sesuatu yang bisa dinikmati seumur hidup. Bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Kelak, saya ingin mereka mencintai ilmu dan berani mengejar pendidikan setinggi-tingginya.
Untukmu, Ibu yang Sedang Merasa Bersalah
Saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa semua ibu bekerja harus mengambil jeda seperti saya. Setiap ibu punya jalannya masing-masing, punya pertimbangan dan pergumulan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Tapi kalau kamu sedang merasa lelah, merasa bersalah karena waktu untuk anak terasa tidak pernah cukup, izinkan saya berkata: kamu tidak sendirian. Rasa bersalah itu adalah tanda betapa besar cintamu pada mereka.
Tidak apa-apa berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya paling penting. Tidak apa-apa mengambil keputusan yang mungkin tidak dipahami orang lain, selama itu lahir dari hati yang tulus dan doa yang sungguh-sungguh.
Dulu saya hanya membaca kisah mereka. Kini, ibu yang memilih jeda demi anaknya itu adalah aku.
Aku memilih jeda, bukan karena menyerah, tapi karena ingin hadir. Sebab waktu bersama anak tidak bisa diulang, dan masa kecil mereka hanya datang sekali. Semoga Tuhan memampukan setiap ibu untuk menemukan caranya sendiri dalam mencintai. Amin! (jwriting)

0 Comments